Kamis, 06 Maret 2014

Wanita pencari kulit kerang


Pantai Watu Lawang - Mencari Cangkang Kerang
Pantai Watu Lawang - Cecilia Lasiyem
Wanita pencari kulit kerang yang saya jumpai di Pantai Watu Lawang – Gunungkidul. Sebut saja namanya Cecilia Lasiyem. Agar terasa lebih akrab saya panggil Cecil saja.
Nyonya Cecil ini seorang wanita yang bersahaja, ramah dan dari garis-garis diwajahnya terlukis betapa keras sebuah kisah kehidupan.
Mencari kulit kerang bukanlah pekerjaan utamanya. Mencari kerang hanya dilakoni sebagai kerjaan sampingan ketika ia sedang tidak sibuk bekerja di lahan pertanian yang tidak jauh dari rumah tinggalnya di Tepus.
Untuk kita semua tahu. Jarak rumah tinggal nyonya Cecil dengan Pantai Watu Lawang sekitar 5 km. Menurut nyonya Cecil, kecuali ojek motor yang bertarif Rp 3.000,- sekali jalan, tidak ada angkutan dari rumah tinggal ke pantai ini. Naik ojek bukanlah pilihan bagi nyonya Cecil. Ia memilih jalan kaki saja. Iya jalan kaki. Uang Rp 6.000,- untuk naik ojek pulang-pergi bukanlah besaran yang sepadan dengan penghasilan dia mengumpulkan kulit-kulit kerang ini.
Barangkali kita penasaran, kulit kerang yang dikumpulkan nyonya Cecil dari hamparan pantai pasir putih yang terik akan di-monetize dengan cara apa.
Pantai Watu Lawang - Gunungkidul : Memungut Kulit Kerang di antara pasir putih
Pantai Watu Lawang - Gunungkidul : Memungut Kulit Kerang di antara pasir putih
Kulit-kulit kerang seperti ini adalah bahan untuk aneka souvenir dan hiasan yang banyak dijual di Pantai Baron, Pantai Kukup, Pantai Krakal dan pantai-pantai lain yang berpengunjung banyak. Tapi nyonya Cecil bukanlah tangan terampil yang bisa menyulap kulit-kulit kerang ini menjadi benda-benda cantik. Nyonya Cecil menjualnya kepada pengepul.
Apabila wadah yang dipakai nyonya Cecil di atas penuh, maka ia akan mengantongi Rp 3.000. Berapa banyak wadah yang bisa ia penuhi dengan kulit-kulit kerang per hari? Tidak pernah bisa dipastikan.
Kerajinan dari kulit kerang
Kerajinan dari kulit kerang
Gambar di ambil dari sini
Oleh tangan-tangan terampil kulit-kulit kerang yang dipungut nyonya Cecil dari hamparan pasir tadi disulap menjadi souvenir cantik yang banyak dijajakan di Pantai Baron dan sekitarnya.

Rabu, 05 Maret 2014

peta pantai goa watu lawang

Peta Pantai Watulawang Gunungkidul Yogyakarta

peta pantai watulawang
Peta Pantai Watulawang - Peta Lokasi Pantai Watu Lawang Gunungkidul Jogja
Pantai Watulawang terletak di Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tepatnya di sebelah Timur Pantai Pulang Sawal (Indrayanti) dan di sebelah Barat obyek wisata pantai Gunungkidul yang lain, yaitu Pantai Pok Tunggal. Koordinat GPS:   S8°9'14"  E110°37'6"

Pantai Watulawang cukup luas, berpasir putih, suasana alamnya masih bersih dan asri. Banyak terdapat  rumput laut dan kulit kerang yang dimanfaatkan warga untuk diolah menjadi kerajinan aneka souvenir. Di pantai ini juga terdapat goa di sebalah barat area pasir putih. Goa ini biasa dipakai sebagai rangkaian upacara nyadran oleh penduduk sekitar.

Rute Lokasi Pantai Watu Lawang Gunungkidul:
Lokasi Pantai Watulawang dapat ditempuh dari Pantai Pulang Sawal (Indrayanti) menyusuri jalan aspal ke arah Timur.  Saat jalan aspal itu berbelok kekiri, kita ambil arah lurus jalan yang tidak beraspal. Ada tempat pengolahan air laut sebelah kanan jalan dan bak penampungan air laut di kiri jalan, teruskan jalan lurus ke Timur.  Setelah berjalan setengah melingkar di balik bukit kecil kita akan  sampai ke Pantai Watulawang.

pantai watulawang gunungkidul jogja

A adalah tikungan ke kiri jalan beraspal di sebelah Timur Pantai Pulang Sawal (Indrayanti), B adalah lokasi Pantai Watulawang Gunungkidul. Garis warna hijau adalah jalan tidak beraspal yang menuju Pantai Watulawang. Jika Anda berjalan lagi ke Timur akan menjumpai Pantai Pok Tunggal (tidak terlihat dalam gambar, silakan cek dengan menggeser peta interaktif di bawah ini via Google Maps).

asal usul

Pantai Goa Watu Lawang - Pantai dengan Celah Bebatuan yang Memanjang

Menemukan hamparan pantai berpasir putih di antara bukit karang yang menjulang bagai menemukan sebuah surga yang tersembunyi di antara hiruk-pikuk pengunjung. Pantai Goa Watu Lawang, menyajikan pemandangan pantai yang sepi dengan nuansa yang asri.


Puas menyusuri keindahan Pantai Indrayanti, saya pun beranjak untuk meninggalkan lokasi. Sebelum menuju parkiran motor, saya tertarik melihat sebuah papan plang yang bertuliskan "Pantai Watu Lawang, 500 meter". Saya pun kemudian memutuskan menyusuri jalan setapak bebatuan yang berada di sebelah timur Pantai Indrayanti ini. Sepanjang jalan setapak ini kita akan
disuguhi pemandangan pohon cemara laut, kolam penangkaran dan pemeliharaan ikan, deretan rumah dinas kelautan, serta lahan pertanian milik penduduk setempat. Suara deburan ombak pesisir selatan selalu setia menemani sepanjang perjalanan menuju Pantai Goa Watu Lawang ini.

Setelah berjalan kaki sekitar 7 menit dari Pantai Indrayanti, sampailah kita di lokasi Pantai Goa Watu Lawang ini. Kesan sekilas mengenai pantai ini adalah sebuah pantai kecil di antara celah bebatuan karang yang kokoh berdiri. Namun coba susuri saja bukit yang ada di sebelah kiri Anda, sebuah hamparan pantai dengan pasir putih yang cukup luas siap memanjakan mata seolah membayar lunas lelah perjalanan. Pantai Goa Watu Lawang masih relatif sepi dari wisatawan. Banyak wisatawan yang memilih menghabiskan waktu mereka di Pantai Indrayanti. Pantai ini masih tergolong masih baru dan belum banyak orang yang mengetahui keberadaannya. Walaupun tergolong masih obyek yang baru, namun pantai ini sudah dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti sebuah warung makan sederhana yang dikelola oleh penduduk setempat dan juga fasilitas toilet umum yang terlihat baru saja dibangun.

Pantai Goa Watu Lawang menurut saya memiliki keistimewaan tersendiri. Pantai ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian barat dan bagian timur yang terpisah oleh bebatuan karang yang membentuk seperti mulut gua yang langsung menghadap ke laut. Konon menurut mitos yang berkembang di masyarakat setempat, mulut goa inilah yang dijadikan sebagai petilasan Prabu Brawijaya VI. Menurut cerita dan mitos yang saya dengar dari penuturan seorang kawan, ada sebuah ritual khusus yang dilakukan agar mulut goa yang tertutup oleh pasir dan ombak tersebut dapat terbuka. Setelah mulut gua terbuka, maka si calon petapa tersebut masuk ke dalam goa. Setelah sang petapa masuk ke dalam goa, mulut goa tersebut akan kembali lagi tertutup oleh pasir dan deburan ombak. Versi lain pemberian nama Goa Watu Lawang adalah terkait dengan kontur bebatuan karang yang berhimpitan membentuk celah memanjang seperti sebuah pintu yang terletak dekat dengan mulut goa.
 
Karena masih tergolong sepi oleh kunjungan wisatawan, pantai ini memang memiliki nuansa selayaknya pantai milik pribadi. Pantai Goa Watu Lawang di sisi timur memiliki pantai yang cukup luas dengan hamparan pasir putih yang sangat lembut. Menurut saya hal ini menjadi keistimewaan sekaligus pembeda antara Pantai Goa Watu Lawang dengan pantai-pantai lain di pesisir Gunung Kidul. Rata-rata pantai di pesisir Gunung Kidul memang memiliki pantai dengan pasir putih namun pasirnya cukup kasar. Karena menawarkan suasana sepi dan masih nampak alami, pantai ini menjadi salah satu tujuan untuk berkemah menikmati suasana alam bebas. Ketika saya datang ke pantai ini terlihat rombongan pecinta alam dan juga mahasiswa baru yang melakukan makrab di pantai ini.

Tak ada salahnya memang jika Anda sejenak menyempatkan waktu luang mengkesplorasi keindahan Pantai Goa Watu Lawang ini setelah Anda puas menyusuri keindahan Pantai Indrayanti pesisir selatan daerah Gunung Kidul. Selain memberikan pemandangan pantai dengan pasir putih dan ombak yang jernih, Anda pun dapat puas menikmati suasana pantai yang seolah terkesan menyendiri ini.